"rasanya menjadi seekor keledai, dengan banyak mengikuti perintah majikannya. Aku senang dan bahagia diberi makanan dan kesetiaan dari majikan. Namun, pada saat itu pula tanpa aku sadari aku dibohongi dengan kesetiaan majikan." Aku bukan malaikat, yang bisa menyembuhkan semua maaf dari penyakit hati, aku adalah manusia yang diberikan hati oleh Nya. Dapat merasakan semua yang aku rasakan. Walaupun setiap waktu ku taat kepada Nya, ku selalu lafadkan ayat-ayatNya dan aku mengerti tafsirNya namun saya hanya Manusia. Aku tidak akan membahas dan mencari dosa orang-orang karena aku pun tahu bila aku pun pernah melakukan dosa dan aku selalu memohon ampun kepadaNya.
Untuk kali ini saya memilih pilihan yang salah. Namun, saya tau apa yang saya lakukan. Untuk menjalin hubungan dengan seseorang memerlukan suatu pemikiran yang matang. Tidak hanya untuk bisa mengenali suatu kepribadiannya namun kita harus bisa mengenali diri kita terhadap dia, apakah kita merasakan sayang? cinta?. "BAIK" itu hanya "jalan raya" memuluskan semuanya agar semua menjadi baik. dan itu bukan tolak ukur , semua orang bisa berbuat dan bertindak seolah mereka orang baik namun baik dengan syarat atau tanpa syarat? dan satu lagi "tujuan" itu yang perlu.
Anak ini tidak baik untukku, namun saya mencoba memberikan hal terbaik untuk hidupnya dan mengajarkan hal-hal baik kepadanya. namun, jujurnya apa yang setiap aku lakukan itu banyak tersirat dan penolakan dari hati yang memberi tahukan untuk apa menolong manusia seperti ini? apa gunanya untuk dirimu.
sejarah hidupnya terlalu suram untuk kehidupan ku yang normal. terlalu awam aku mengenal hal - hal ini,dan itu merupakan suatu aib. Aku terfikir, "aib" itu "dosa besar" dan memerlukan pengampunan dari Nya.
Aku menjalin hubungan dengan orang yang pernah melakukan hubungan intim sebelum menikah. Melihat keadaannya seperti ini , aku selalu membatasi diri dari hal yang negatif dengan selalu mengingat Nya dan orang tua yang membesarkan aku. Ingin mengakhiri semua, namun tak bisa, dia harus berubah enjadi lebih baik.
Aku berfikir, seorang bunda dan seorang ayah menikah dan membesarkan anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang, mengajarkan hal - hal baik, memberikan pengertian-pengertian yang anaknya tidak mengerti, mengajarkan moral yang baik , agama dan banyak lagi. Tetapi, ada hal yang menjadi tombak penghancursan dari semuanya yang mereka tidak ketahui, yaitu "LARANG,MELARANG, DILARANG".Setiap orang tua selalu melarang kebebasan anaknya dengan alasan klasik karena mereka "Tidak mau"dan kasih sayang. Namun, semakin mereka melarang, anak pun menjadi membangkang dengan memilih kerasnya otak mereka dengan rasa keingin tahuan yang tinggi. Ratai yang dibangun seakan retak semua. Apakah mereka sadar ini semua salah? apakah sadar yang mereka lakukan sia -sia, Anaknya yang mereka kenal baik namun tidak baik? jadi siapa yang harus disalahkan??namun itu sebuah "penghkianatan seorang anak".
itu yang menjadi masalah pelik yang muncul. Dengan menyadarkan seseorang dari "seks" itu rumit. ada kebiasaan yang tidak bisa di ditahan. Pada hubungan aku ini, aku sebagai wanita terhormat, dan tidak pernah ternodai untuk hal ini, dan aku berterima kasih , karna saya benar-benar dihargai oleh mu,
namun , betapa sakit sekali sayang tulus ini yang dia yakini kepada aku, dia kotori kembali dengan tingkah laku dia. dia berkhianat . Aku memaafkan kembali, walaupun hati ini benar-benar menjerit , dan tersambar petir pada saat dia mengakui semuanya. Aku menjadi KELEDAI!!!
aku tidak tau hars berbuat apa?
"cinta itu memaafkan, sayang itu tidak cemburu, cinta itu tidak akan marah"
berat sekali rasanya dikhianati dan dipermainkan seperti ini. Tuhan kembalikan dia ke jalan Mu, aku berharap padaMu, tapi aku tidak berharap apapun darinya. dan Jangan pernah berharap apapun dari Nya, aku menolak kesetiaanmu itu, maaf aku tidak bisa, aku menjalin hubungan ini dengan tujuan" kamu berubah dan menjadi lebih baik lagi" hargai wanitamu,,,,hargai wanitamu,,,,hargai wanitamu! dn hormati agama, hormati dirimu sendiri ,
"hargai dirimu sebagai pangeran yang suci didepan ratumu"