ini salah satu kisah nyata tentang kegundahan seseorang yang sulit menapaki dirinya dan keluarga.
Hari ini pembagian hasil nilai kelulusan SMA ku. Aku berharap dengan mendapat nilai bagus aku akan melanjutkan kuliah di universitas yang bagus juga, hasilnya pun sudah ada ditangan. Betapa bahagianya aku mendapatkan hasil yang membuat orang tua aku senang dan bangga. Aku bersyukur kepadaNya dan mencium kedua orang tuaku dengan rasa haru kita berpelukan satu sama lainnya didepan pintu rumah. Kami sama sama memasuki celah daun pintu dan semerbak senyum dan harapan kepadaku. Kulihat terus tulisan yang ada diselembar kertas ini, kupandangi hasil kerja kerasku dan aku mulai berangan-angan ingin masuk ke universitas unggulan.
keesokan harinya.
Ayah mengajak aku untuk mencari tempat kuliah yang bagus didaerahku. Daerah ku tidak terlalu besar dan aku berfikir aku tidak akan bisa dan dapat maju untuk daerah ini. Aku mengajukan saran kepada ayahku bahwa alangkah baiknya aku kuliah di kota besar saja yang sudah jelas asal-usulnya dan para alumninya yang sudah banyak yang berhasil. Ayahku tidak menyetujuinya karena ayah takut tidak terpantau dan biayanya pun pasti mahal karena kebutuhan selain kuliah. Aku terus mendesak kepada ayah dan berjanji menjadi anak yang sukses kelak karena ini pilihanku. Masuk ke kampus ini karena teman-teman di daerahnya ada yang masuk kampus itu dan dia berharap ada teman yang baik menemani dia di kota besar itu.
Perang argumen antar ayah dan aku sangat mengundang emosi sesaat. Ibu yang beranjak dari memasak datang menenangkan ayahku dan lebih mempertahankan kemauan aku. Ayahku pun terpakasa mengalah dengan ibuku. Ibuku memang ibu yang sangat baik, dia memberikan nasihat untuk gambaran kelak di kampus dan hidup terpisah dengan orang tua. Ibu juga memberi tahu kepadaku soal biaya masuk ke kampus yang aku mau dan biaya hidup yang akan dikeluarkan nanti. Kehidupan kita bukan kehidupan kebanyakan orang yang sangat berkecukupan namun kita berkurang dan kami orang tua manabung untuk menyisihkan sebagian rizki kami hanya untuk kuliah anak hingga selesai dan itu sudah dianggarkan. Jadi, ibu berharap jangan bertidak macam-macam apabila harapan kamu di kota besar itu akan terwujud. Ayah memilih untuk berdiam diri diujung sofa mendengarkan ibu yang menasehatiku. Dengan murung ayah terlihat kecewa karena omongannya tidak diterima olehku dan dari mulai saat itu ayah mulai diam dan jarang sekali berbicara kepadaku.
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar